DINKOP dan UMKM

Menurut Vitriaman, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM, hubungan UMKM solo dengan hinterlandnya, Solo memberikan tempat kepada hinterlandnya. Bukti paling nyata adalah jumlah penduduk pada malam hari berjumlah 564.700 orang sedangkan pada siang hari  1,5 juta sampai 2 juta orang. Di Kota Solo terdapat 12 sentra kerajinan dan UMKM yang terbesar adalah UMKM batik. Salah satu fungsi Dinas Koperasi dan UMKM di Solo adalah menyatukan pengusaha-pengusaha tradisional di Kota Solo dalam suatu wadah kelembagaan yaitu koperasi. Bentuk dukungan dalam mengembangkan UMKM batik adalah mengadakan pameran dalam skala lokal, nasional, maupun internasional dan membuat lapangan usaha bersama dengan membuka pasar baru seperti night market sebagai fasilitas penjualan produk UMKM. Terdapat upaya pengembangan UMKM batik di Solo yaitu membuat suatu kebijakan dengan adanya satu kota satu produk yang bekerja sama dengan koperasi UMKM dan dinas koperasi provinsi Keberadaan koperasi pendukung UMKM sudah informatif kepada para pelaku usaha karena sering mengadakan rapat dengan kemitraan usaha. Alur pinjaman usaha dan pemberian dana pengembangan bagi UMKM batik Kota Solo menganggarkan 600 – 700 juta, dan setiap pengusaha mendapatkan 2-5 juta dengan bunga 6 % dibantu dengan lembaga perkreditan dimasing-masing tempat usaha tersebut. Demand supply batik di Kota Solo sangat baik karena batik menjadi warisan budaya internasional yang ditetapkan oleh UNESCO sehingga di eksport ke luar negeri. Kontribusi UMKM batik terhadap perekonomian Kota Solo adalah meningkatkan pendapatan daerah Kota Solo.

Permasalahan yang ada dalam UMKM batik cukup beragam, mulai dari sumber daya manusianya yang kurang memadai karena tingkat pendidikannya yang rendah, aspek permodalan yang sulit, serta kurangnya promosi untuk meningkatkan pamor batik itu sendiri. Usaha Dinas Koperasi dan UMKM untuk membuat kemitraan antara pengusaha kecil dan besar belum dapat terealisasi dengan baik karena masih besarnya ego dari masing-masing pengusaha yang tidak mau bekerja sama. Selain itu, kendala bagi para pelaku UMKM batik yang memasarkan produknya di mall karena proses pembayaran hasil penjualan produk cukup lama, hal ini berimbas pada perputaran modal yang seharusnya dibutuhkan untuk modal produksi selanjutnya.

Keterkaitan antara batik solo dengan batik sragen bergerak dengan inisiatif para pelaku usaha tanpa campur tangan dari pemerintah daerah masing-masing. Ciri khas batik Solo dengan batik lainnya adalah bahan bakunya berasal dari bahan-bahan alami dan warnanya lembut, jika dibandingkan dengan batik lainnya yang menggunakan bahan baku yang berasal dari bahan kimia serta warnanya yang lebih berani. Batik Solo lebih mementingkan kualitas dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan batik produksi dari Kabupaten Sragen.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: