Tokoh Masyarakat Kelurahan Pungsari, Kecamatan Plupuh

Sumber: Bapak Sukardi

Kepala Desa Kebaksari

Batik merupakan warisan budaya dari nenek moyang. Pada awal mulanya batik hanya diproduksi untuk bahan sarung, ikat kepala,blangkon, dan jarik. Kemudian seiring dengan perkembangan jaman, batik mulai dikenal oleh masyarakat luas dan digunakan dalam berbagai jenis model pakaian seperti baju, tas, sendal, sepatu, dan masih banyak yang lainnya. Salah satu lokasi pemasaran batik Sragen adalah Kota Solo karena Solo merupakan pusat dari SUBOSUKOWONOSRATEN dan merupakan simpul pergerakan regional. Selain itu, Solo sudah lebih dulu terkenal sebagai Kota Batik sehingga masyarakat lebih mengenal Solo dibandingkan Sragen.

Di Kecamatan Plupuh sendiri tercatat ada 11 pengrajin batik. Merek juga telah memiliki nama baik sendiri-sendiri. Contohnya saja pengrajin batik yang bernama Pak Suripto memiliki nama batik Nur Khasida, Pak Sukardi dengan nama batik Tresno Kuncoro dan lain-lain. Rata-rata pengrajin menghasilkan 500-800 lembar dalam sebulan. Untuk lebih mengembangkan batik khususnya di Kecamatan Plupuh, pemerintah sering memberikan pelatihan-pelatihan seperti pelatihan membatik, pelatihan dalam pengemasan batik, dan pelatihan dalam pemasaran batik. Hal tersebut sedikit membantu pembatik agar dapat mengembangkan usaha batik. Keberadaan sentra batik di Kecamatan Plupuh tersebut dapat menekan angka penggangguran karena kebanyakan dari pekerja adalah penduduk asli Kecamatan Plupuh. Bagi para pemuda Plupuh, membatik merupakan pekerjaan sampingan karena kebanyakan dari mereka pekerjaan utamanya adalah bertani dan berkebun. Akan tetapi bagi orang tua Plupuh, membatik merupakan pekerjan utama yang dilakukan turun-temurun. Untuk tenaga kerja, dalam pembuatan batik tulis diberi upah sebesar 65 ribu rupiah/ selembar kainnya. Untuk tenaga kerja yang bertugas mewarnai diberi upah 4 ribu rupiah/ selembar kainnya. Sementara dalam pembuatan batik printing dan cap pare pekerja diberi upah 20 ribu rupiah sehari.

Pada awal mulanya sistem perdagangan batik masih barter. Para pekerja dari Sragen membawa pekerjaan membatik ke rumah kemudian ditukar kembali dengan uang atau kain mori di Solo secara rutin. Semakin berkembangnya keahlian membatik, masyarakat Sragen mulai mengembangkan batik di daerahnya sendiri. Masyarakat Sragen mendapatkan keahlian seperti mencampur obat, ahli dalam mendesain, dan pintar membatik yang didapatkan mereka ketika bekerja di Solo. Secara berangsur-angsur  dan alamiah jumlah pengrajin batik di Sragen semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Model-model batik Sragen masih alami yaitu jenis batik tulis seperti batik Sidomukti yang mengandung makna Kesejahteraan, Wahyu temurun, Pituretnum, dan Sidomulyo. Model batik Sragen juga ada yang abstrak yaitu batik yang dibuat menurut kreatifitas pembatik. Ada kriteria-kriteria tersendiri pada jenis batik. Untuk langkah-langkah pada batik tulis sebagai berikut :

  1. Pertama-tama pola digambar di kertas roti dahulu dengan menggunakan pensil
  2. Kemudian pola dijiplak lagi ke kain mori dengan menggunakan karbon agar lebih efisien
  3. Kain mori yang sudah digambar kemudian disemprit menggunakan alat canting dengan menggunakan malam
  4. Cara membatik menggunakan canting, dicelupkan terlebih dahulu ke campuran warna yang telah dibuat, kemudian ditiup dengan tujuan agar malam tidak cepat kering di cantingnya.
  5. Langkah selanjutnya dibatik yaitu mempertebal gambar yang telah dibuat di kain mori tadi
  6. Setelah proses pembatikan selesai, kemudian diberi warna.
  7. Setelah itu kain batik dikeringkan sebentar dan dialasi dengan watergross agar warnanya tahan lama setelah itu dicuci agar paduan warna yang dihasilkan lebih merata dan lebih bagus.

Teknis dalam pembuatan motif batik tulis beraneka ragam, ada yang dimulai dengan menggambar di bagian pinggirnya terlebih dahulu, kemudian baru menggambar yang bagian tengahnya. Keunikan dan ciri khas dari batik tulis adalah pola yang tidak teratur karena menggunakan tangan atau disebut dengan Asli Tangan Bukan Mesin (ATBM) dan coraknya yang beraneka ragam. Namun kelemahan dalam membuat batik tulis adalah waktu yang digunakan dalam proses pembuatannya lebih lama sekitar 1-3 bulan (untuk 1 kain batik). Perpaduan warnanya pun juga bermacam-macam.

Pada awal mulanya, bahan dasar yang digunakan untuk warna tinta dan batik tulis di kelurahan Plupuh adalah kayu seperti jenis kayu tluntum namun untuk saat ini karena teknologi yang sudah berkembang sehingga untuk tinta batiknya sudah menggunakan cat. Untuk cara pengolahan pada saat masih menggunakan kayu tluntum yaitu secara alamiah, kayu dipotong kecil-kecil kemudian air dari kayu tersebut dikumpulkan di drum kemudian dimasukkan malam dan dipanaskan dengan menggunakan kayu bakar dan ditutup dalam beberapa hari. Kemudian siap pakai. Apabila dalam penggunaan tinta warna tersebut masih ada sisa, masih bisa dimanfaatkan lagi untuk kain-kain yang lainnya dengan jenis-jenis warna sesuai dengan kebutuhan. Selanjutnya kain direndam dalam air dari kayu tluntum tadi.

Untuk batik print/sablon, secara singkat proses pembuatan dengan menggunakan meja dengan ukuran panjang sekitar 14 meter yang dilengkapi dengan titik-titik ukuran untuk memotong kain batik, kain diletakkan di atas meja kemudian diatas kain ditutup dengan papan pola batik dengan karbon yang diatasnya terdapat tinta untuk pewarnaan. Dengan 2 orang pekerja yang saling berhadapan, tinta di atas papan pola diratakan ke kain. Setelah disablon, kain diangkat dari meja kemudian dikeringkan. Sebelum dikeringkan, kain dipotong sesuai kebutuhan agar ukurannya tidak terlalu panjang. Biasanya dipotong dengan ukuran 2 meter. Setelah dikeringkan, langkah selanjutnya adalah memasukkan kain yang telah disablon ke dalam watergross agar warnanya lebih menyatu dan tahan lama.  Tahap akhir dicuci dan kemudian dilipat. Waktu untuk membuat motif pada satu lembar kain dalam batik printing tidak sampai 15 menit. Untuk dasar warna yang pertama digunakan adalah warna-warna pokok seperti kuning , merah, hitam dan biru. Kemudian setelah diberi warna dasar ditutup/ditindih lagi dengan warna-warna yang lebih muda.

Untuk proses pembuatan batik cap, langkah pertama yang dilakukan adalah menyiapkan alat pencetak dan tinta pewarnanya kemudian meletakkan kain yang akan dicap di atas meja. Setelah itu alat pencetak yang berbentuk persegi atau persegi panjang ditempelkan ke tinta pewarna kemudian dicapkan ke kain secara beraturan. Untuk kelemahan dari batik cap dan batik sablon adalah motifnya yang cenderung sama dan teratur/kurang beraneka ragam dalam coraknya sehingga harganya lebih murah dibandingkan dengan batik tulis.

Hasil produk batik Sragen dipasarkan ke luar wilayah seperti di Solo yang tersebar di Klewer, PGS, dan Beteng. Selain itu juga dipasarkan ke luar Jawa seperti Bali, kalimantan, dan Sumatera. Untuk pemasaran ke luar negeri belum ada. Pemasaran di dalam wilayah Sragen sendiri tersebar di beberapa kecamatan seperti Kecamatan Masaran, Kecamatan Tanon, dan Kecamatan Plupuh itu sendiri.

Solo mengambil bahan kain batik dari Sragen karena di Solo sendiri pengrajin batik tulis tidak sebanyak yang ada di Kabupaten Sragen. Masalah mengenai batik Sragen yang kurang pamor jika dibandingkan dengan batik-batik yang lainnya dikarenakan dari segi marketingnya dan keahlian dalam mendesain masih unggul di Solo seperti adanya event-event khusus sebagai ajang promosi batik Solo.

Harapannya adalah agar budaya batik bisa dilanjutkan oleh generasi muda sehingga tidak hilang. Selain itu, Batik Plupuh juga dapat dipasarkan ke luar negeri. Seharusnya batik Sragen lebih dikenal oleh masyarakat luas karena batik seperti Danar hadi, Keris, yang sudah memiliki hak paten sendiri ternyata barang setengah jadinya bahkan barang jadinya yang berbentuk kain batik banyak yang berasal dari Sragen. Kain batik di beli oleh para pengepul di Solo dan kemudian dijual dengan harga tinggi yang bisa mencapai 2x lipat atau lebih. Hal tersebut seharusnya menjadi modal utama batik Sragen lebih dikenl di luar maupun di dalam daerah bahkan mampu menembus pasar mancanegara.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: