SBBS

Sentra Bisnis Batik Sragen (SBBS) berdiri pada akhir tahun 2005 tepatnya bulan Desember. SBBS diresmikan setelah teman sejawatnya yang berada di seberang jalan yang diresmikan awal tahun 2005. SBBS disediakan oleh pemerintah sebagai daerah etalase Batik di Kabupaten Sragen. Di dalamnya terdapat 28 stand batik yang berbentuk kavling-kavling kios untuk perusahaan yang berbeda-beda, tentunya dengan ciri khas batik masing-masing di setiap kiosnya. Walaupun dalam pemeliharaannya ini dikelola secara mandiri oleh managemen SBBS, gedung ini cukup terawat. Pegawai SBBS hampir seluruhnya merupakan penduduk asli Kabupaten Sragen, tetapi dari kecamatan yang berbeda-beda. Antara lain dari Kecamatan Tangen, Kecamatan Kalijambe, Kecamatan Karangmalang, serta asli Kecamatan Sragen dimana tempat SBBS berdiri. Usia pegawai di sini rata-rata berumur 20 tahun atau lulusan SMA sederajat. Pasokan yang didapat dominan berasal dari Kecamatan Masaran dan sebagian Kecamatan Plupuh.

Batik yang dijual pun beragam mulai dari batik tulis, cap, printing, dan kombinasi. Jenisnya pun beragam tidak hanya kain lembaran atau baju, terdapat tas, sendal, ikat pinggang, sepatu, hingga handycraft seperti kotak perhiasan, dompet, sepatu, topi, semua ini mencirikan batik atau perwayangan. Harganya pun bervariasi tergantung model, macam batik, kerumitan motif, dan jenis barang yang dijual.  Omset yang mencapai 100-140 juta per bulan, belum lagi di waktu-waktu tertentu seperti lebaran dan liburan akhir tahun omset mencapai 200 juta per bulan. Hal ini membuat pengelola mandiri SBBS membuat pengamanan lebih untuk produk yang ditawarkannya. Memang atmosfernya tidak semodern di Sukowati, tetapi pemberian kamera pengawas di beberapa titik membuat rasa aman dan kepedulian dari pihak pengelola mandiri dengan penjual di stand.

Terdapat pula hambatan dan keluhan yang dialami. Pertama, tempat parkir yang kurang memadai ketika pengunjung rombongan datang menggunakan bus wisata, bahkan pintu masuk parkirnya pun jika bus dari arah barat yang hendak parkir memerlukan energi dan pikiran lebih untuk memarkirkan kendaraan roda delapannya tersebut masuk ke dalam lahan parkir yang telah disediakan. Kedua, pengunjung datang ketika waktu-waktu tertentu saja. Ketiga, jika pembayaran menggunakan card harus ke Sukowati karena di SBBS tidak memiliki alat pembayarannya, padahal hal yang kelihatannya kecil ini cukup penting.

Peran serta pemerintah dalam mendukung pemasaran Batik di SBBS antara lain melakukan promosi kepada seluruh tamu pemerintah daerah yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia bahkan luar negeri. Tamu-tamu tersebut pasti di arahkan ke SBBS atau Sukowati jika ingin mencari cenderamata. Kemudian, kerjasama yang dijalin dengan Kota Surakarta dan Jogjakarta. Kerjasama ini berbentuk undangan ke Kabupaten Sragen khususnya pengrajin SBBS yang merupakan salah satu promosi ke luar daerah. Ada pula kerjasama dengan pihak-pihak swasta untuk melakukan promosi yaitu dengan Pertamina dan Angkasa Pura. Adanya potensi, hambatan, dan perhatian dari pemerintah. Sehingga membuat harapan-harapan. Parkiran yang lebih ditata agar memadai dan mempermudah bus-bus besar parkir, mencat ulang gedung, pemberian AC kembali, serta meja kasir yang lebih mengayomi konsumen khususnya proposal pengajuan pembayaran card segera di acc. Harapan-harapan ini mengacu sebenarya agar konsumen lebih tertarik berkunjung dan merasa nyaman.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: