Klaster Batik Masaran

Kecamatan Masaran Merupakan salah satu Kecamatan di Kabupaten Sragen yang mengembangkan kluster UMKM Batik di wilayahnya. Asal mula adanya UMKM Batik di Kecamatan Sragen adalah bawaan dari seorang pegawai Kraton di Surakarta asal Kabupaten Sragen yang membawa serta kebudayaan Batik Kraton tersebut saat beliau kembali ke Kabupaten Sragen. Namun, tidak ada informasi yang jelas mengenai kapan dan siapa yang membawa kebudayaan Batik tersebut ke Kabupaten Sragen khususnya di Kecamatan Masaran. Kluster UMKM Batik di Kecamatan Masaran mulai tumbuh pada awal tahun 1997 yang ditandai oleh berdirinya UMKM Batik Brotoseno di kuyang, Desa Kliwonan. Berdirinya Batik Brotoseno memicu perkembangan UMKM Batik di Kecamatan Masaran yaitu dengan munculnya beberapa pengusaha Batik lain seperti Batik Sadewo, Batik Brotojoyo, Batik Dewi Brotojoyo, Batik Dewi Shinta, dan Batik Dewi Arum yang berada di Desa Kliwonan dan Desa Pilang bahkan hingga ke Kecamatan Plupuh.  Dari sini, dapat dilihat arah perkembangan lokasi UMKM batik di Kecamatan Masaran yang bermula dari Desa Kliwonan dan berkembang ke arah Utara tepatnya di Desa Pilang hingga ke Kecamatan Plupuh.

Setelah terbentuk beberapa pengusaha Batik di Kecamatan Masaran, muncul gagasan untuk membentuk suatu wadah organisasi yang menaungi para pengusaha Batik di Kecamatan Masaran. Akhirnya, sekitar awal tahun 1999 dibentuk Koperasi “GIRLI” yang berfungsi sebagai lembaga resmi yang menaungi para pengusaha batik di Kecamatan Masaran sekaligus sebagai penyedia pinjaman dana bantuan bagi pengusaha batik tersebut. Namun setelah berkembang cukup pesat sebagai usaha yang menjanjikan, para pengusaha batik di Kecamatan Masaran lebih memilih bekerja sama dengan pihak Bank dalam hal peminjaman modal usaha dengan alasan lebih praktis dan dana yang dipinjam lebih besar.

Pada awalnya, para pengusaha batik hanya mengembangkan jenis batik tulis sebagai komoditi utama. Namun seiring perkembangan permintaan pasar, dibuat pula jenis batik printing dan batik cap untuk memenuhi permintaan tersebut. Selain lebih cepat dalam hal proses produksinya, batik cap dan batik printing juga memiliki harga lebih murah sehingga dapat menjangkau seluruh kalangan masyarakat.  Dalam proses pengolahan menjadi pakaian jadi, semua jenis batik diolah menjadi segala jenis pakaian jadi tanpa adanya perkecualian untuk jenis batik tertentu. Dalam hal penjahitan, masing-masing pengusaha batik bekerja sama dengan pihak konveksi sebelum akhirnya dipasarkan ke dalam dan luar wilayah Kabupaten Sragen. Untuk memenuhi permintaan pasar internal, batik dipasarkan ke seluruh wilayah Kabupaten Sragen.  Pemerintah Kabupaten juga mendukung kegiatan pemasaran para pengusaha batik dengan menyediakan tempat khusus sebagai etalase produksi batik di Kabupaten Sragen yaitu Sentra Bisnis Batik Sragen (SBBS) dan Batik Sukowati. Namun keberadaan SBBS dan Batik Sukowati tersebut kurang mendapat dukungan dari masyarakat Kabupaten Sragen yang kurang antusias dalam mendukung perkembangan pusat penjualan batik Sragen tersebut. Dinas Koperasi Kabupaten Sragen bekerja sama dengan Dinas Pariwisata pernah mengadakan Sragen Batik Carnival (SBC) pada tahun 2007 dengan harapan mempromosikan keberadaan Batik Sragen di dalam dan di luar wilayah. Walaupun sambutan Masyarakat cukup bagus, namun event-event promosi seperti ini akhirnya harus berhenti karena pergantian kepengurusan lembaga di Dinas Pariwisata menyebabkan perbedaan pendapat mengenai event-event semacam ini.

Para pekerja UMKM Batik Masaran umumnya berasal dari Kecamatan Masaran itu sendiri, berusia diatas 40 tahun dan berjenis kelamin wanita. Pekerja wanita lebih banyak terkonsentrasi pada proses produksi batik tulis karena membutuhkan ciri khas khusus. Sedangkan pekerja pria lebih banyak digunakan dalam proses pewarnaan, pencucian, serta proses produksi batik Cap dan printing.

  • Proses produksi Batik

Rata-rata lama produksi batik tulis adalah 3 bulan untuk 1 lembar kain. Motif dan warna kain disesuaikan dengan permintaan dan trend pasar yang sedang diminati. Prosesnya yang lama dan kualitasnya yang jauh diatas jenis batik lainnya, membuat harga jual Batik Tulis ini dapat berkali-kali lipat diatas harga jual jenis batik lainnya. Motif kain batik tulis Sragen memang cenderung sama dengan batik solo, namun terdapat ciri khusus yaitu motif bunga dan burung dengan perpaduan warna yang menyolok sehingga menjadikan batik Sragen mempunyai karakter unik sebagai pembeda dengan batik dari daerah lain. Macam jenis motif kain batik khas Kabupaten sragen antara lain adalah motif jarik, sidodrajat, mukti, wahyu, sidoluhur, dan lain-lain.

Adapun proses pembuatan Batik tulis melalui beberapa tahapan, antara lain :

  1. Pembuatan motif awal menggunakan pensil di kain putih
  2. Motif awal ditimpa dengan malam
  3. Pewarnaan motif awal
  4. Pewarnaan dasar kain
  5. Di lorot (memunculkan warna putih lagi), kemudian di lemasi
  6. Kain yang sudah dilorot, ditimpa dengan malam lagi
  7. Pewarnaan kedua
  8. Kemudian ditimpa lagi dengan malam sesuai dengan motif awal
  9. Proses clean atau pembersihan warna
  10. Di lorot untuk memunculkan warna dasar yang diinginkan
  11. Di jemur

Sedangkan untuk batik printing, proses pembuatannya lebih mudah dan cepat. Untuk menghasilkan  satu lembar kain batik siap olah, hanya dibutuhkan waktu tiga sampai empat hari tergantung panas matahari saat menjemur kain batik. Motif batik yang dibuat tidak jauh beda dengan motif kain batik tulis, namun bahan yang digunakan lebih umum seperti kain mori. Adapun proses pembuatan jenis batik printing ini melewati beberapa tahap, yaitu :

  1. Kain putih di gelar di alas khusus yang panjangnya 35 meter
  2. Kain putih di print mengunakan cetakan khusus sesuai dengan motif yang diinginkan
  3. Jumlah proses pencetakan dilakukan sesuai dengan jumlah warna yang diinginkan. Artinya jika kain batik memiliki 5 warna, proses pencetakan dilakukan sebanyak 5 kali dan dilakukan per warna.
  4. Setelah selesai proses pencetakan, kain dijemur terlebih dahulu.
  5. Setelah kering, masuk ke tahap pengancingan warna dengan alat khusus yang menggunakan campuran soda api dan ilikat untuk mengikat warna dasar dan motif kain batik tersebut.
  6. Kain batik dicuci tiga kail di tempat yang berbeda
  7. Kain batik direndam selama satu malam di air biasa
  8. Kain batik di jemur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: