Mau tahu UMKM di Sragen?

Variasi responden berdasarkan skala usaha didominasi oleh perusahaan mikro dan kecil dengan rata-rata lama usaha UMKM di Kabupaten Sragen adalah 10 tahun. Berikut urutan besaran proporsi UMKM di Kabupaten Sragen berdasarkan skala usaha: usaha mikro 41 persen; usaha kecil 30 persen dan usaha meengah 29 persen. Sementara, variasi responden UMKM jika dilihat dari dimensi sektor usaha, sebagian besar UMKM di kabupaten sragen bergerak di sektor sekunder dan tersier. Di Kabupaten Sragen terdapat setidaknya 69 persen UMKM bergerak di Sektor Industri Pengolahan; selanjutnya diikuti oleh Sektor Pertanian sebesar 19 persen; Sektor Perdagangan sebesar 7 persen; serta Sektor Pengangkutan sebesar 4 persen; serta Sektor Pertambangan sebesar 1 persen. Produk-produk tersebut selanjutnya dipasarkan ke pasar lokal, regional, nasional dan internasional. Sekitar 42 persen produk UMKM di Kabupaten Sragen berorientasi pada pasar lokal, 15 persen pasar regional, 38 persen berorientasi pada pasar nasional sementara 5 persen pada pasar internasional.

Faktor hambatan pengembangan UMKM di Kabupaten Sragen relatif lebih rendah dibandingkan dengan daerah lainnya. Di Kabupaten Sragen hanya terdapat sekitar 51 persen UMKM yang memiliki hambatan baik hambatan persaingan (persaingan klaster, persaingan domestik dan persaingan luar negeri), penyelundupan, kebjakan ekonomi, kebijakan harga, penguasaan teknologi, permodalan dan manajerial dalam pengembangan usaha. Kondisi kondusif tersebut berpengaruh terhadap kelayakan bisnis di Kabupaten Sragen, sehingga proporsi UMKM yang telah memanfaatkan perbankan sebagai alternatif pembiayaan lebih besar. Terdapat sekitar 54 persen UMKM yang telah terhubung dengan bank. Meskipun demikian, pembinaan UMKM di Kabupaten Sragen masih rendah. Hal tersebut ditunjukkan oleh statistik bahwa sekitar 41 persen UMKM di Kabupaten Sragen telah mendapatkan pembinaan dari aparat terkait. Akan tetapi sebagian besar produk UMKM yang berada dalam siklus berkembang dan matang merupakan salah satu aspek yang mendukung prospek perkembangan UMKM di Kabupaten Sragen. Sekitar 46 persen produk UMKM di Kabupaten Sragen berada dalam siklus perkembangan dan 38 persen berada dalam siklus produk yang matang.

Batik Sragen? Emang ada ya ?

Batik adalah sebuah paduan kreasi seni yang memiliki nilai tinggi dengan budaya pada suatu daerah tertentu, merupakan  warisan leluhur yang harus dilestarikan.

Memang masyarakat luas pada umumnya mengenal Solo, Pekalongan, Yogyakarta sebagai penghasil utama kain batik di Indonesia. Hanya segelintir saja yang mengetahui bahwa Kabupaten Sragen sebenarnya juga merupakan salah satu daerah penghasil kain batik. Bahkan, kain batik dengan desain khas karya perajin Sragen justru banyak membanjiri pasar batik di Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Surabaya, Denpasar, dan Jakarta. Selain itu, batik Sragen juga telah menembus pasar luar negeri, antara lain Malaysia, Singapura, Afrika, Amerika, dan Jepang.

Di Sragen, saat ini terdapat 12.000 pembatik yang sebagian besar mendiamiDesa Kliwonan, Pilang dan Sidodi yang terletak di Kecamatan Masaran. Sebagian pembatik lainnya berdomisili di desa Gedongan, Jabung Kecamatan Plupuh dan Kecamatan Kalijambe. Untuk mendukung program Desa Wisata Batik di desa Kliwonan yang terletak 13 km sebelah barat dari pusat Kota Sragen, Pemerintah Kabupaten Sragen menyelenggarakan pusat pelatihan dan pemasaran Batik.  Produksi batik Sragen meliputi batik tulis, cap, dan printing dengan berbagai ragam produk seperti Sarimbit, Sarung Selendang, jarik, kemeja, dan blus. Industri batik membuka peluang besar untuk penanaman modal dalam hal pengadaan bahan baku, pengembangan produksi, pelatihan dan ketrampilan, serta promosi dan pemasaran.

Ada Ciri Khas Khususnya?

Tentu saja ada, seperti batik dari daerah lain yang mempunyai ciri dan motif yang unik, batik Sragen memiliki dua jenis batik yang menjadi produk kebanggaan masyarakatnya. Jenis batik tersebut antara lain :

Batik Brotoseno

Didirikan oleh Suparjan, pada tahun 1976, Batik Brotoseno merupakan salah satu produsen Batik terkemuka di Jawa Tengah. Di bengkel kerjanya yang berlokasi di Dusun Kuyang Desa Kliwonan, Kecamatan Masaran, Sragen, Batik Brotoseno saat ini memperkerjakan 100 orang pembatik yang merupakan warga sekitar. Selain itu, Batik Brotoseno juga menjalin kerjasama dengan para perajin batik lainnya di Kliwonan, sehingga mampu menyerap tambahan tenaga kerja sebanyak 250 orang.

Dengan jumlah pekerja sebanyak itu, tak mengherankan bila Batik Brotoseno mampu menghasilkan 1000 potong (sekitar 2.500 m) kain batik jenis sutera setiap bulan dan 900 potong (sekitar 2.250 m) kain batik jenis katun. Setiap potong kain Batik, jenis sutera maupun katun, memiliki panjang standar 2,5 m dengan lebar 1,15 m.  Harganya cukup bervariasi, tergantung motif batik, model, dan jenis bahan kain.Untuk kain batik jenis sutera dibanderol dalam kisaran Rp 100 ribu hingga 4,5 juta. Sedangkan untuk kain batik jenis katun, dijual dengan harga Rp 50 ribu hingga Rp 500 ribu.

Pengelolaan Batik Brotoseno saat ini berada di bawah kendali salah satu putra Suparjan, Eko Suprihono. Jaringan pemasaran Batik Brotoseno pun kian mantap. Kain batik produksi Batik Brotoseno kini telah merambah hampir seluruh kota-kota utama di Pulau Jawa, semisal Jakarta, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Solo, Pekalongan, Denpasar. Produknya juga diminati pembeli di luar Jawa, seperti Bali, Kalimantan, Sulawesi. Tak hanya itu, Batik Brotoseno juga berhasil menembus pasar luar negeri, hingga ke Jepang, Swiss, dan Afrika.

Untuk memperkuat permodalan dan meningkatkan kapasitas produksinya, Batik Brotoseno membuka peluang bagi investor untuk menanamkan dananya. Saat ini, Batik Brotoseno membutuhkan suntikan dana segar dari investor sedikitnya Rp1 miliar. Dana sebesar itu terutama akan dialokasikan untuk pengadaan bahan baku berupa kain sutera, kain, benang, obat-obatan tekstil untuk pewarnaan, mesin pemintal benang dan mesin tenun.

Alamat            : BATIK BROTOSENO

(Bp. Eko Suprihono)

Kuyang Kliwonan Masaran Sragen 57282

Telp./ Fax. 0271 881366

Batik Widya Kusuma

Batik Widya Kusuma didirikan oleh Wakiman, seorang pembatik asal Plupuh, Sragen, pada tahun 1997. Semula, Wakiman adalah buruh batik yang bekerja untuk seorang pengusaha batik di Solo. Namun, dorongan untuk mandiri telah membawanya pada keputusan untuk memulai usaha produksi batik. Berbekal modal tabungan sendiri, Wakiman merintis usahanya. Namun, pada awalnya usaha yang dijalankan Wakiman hanya mampu melayani order pewarnaan – salah satu tahap dalam proses pembuatan batik – yang diperolehnya dari para pengusaha batik Solo. Baru pada tahun 2002, Wakiman mampu memproduksi batik secara utuh.

Berkat keuletan dan kegigihannya, usaha batik Widya Kusuma terus berkembang pesat. Wakiman pun mampu membangun tiga bengkel kerja yang berlokasi di Butuh, Gedongan, dan Wonokerto, kesemuanya berada di wilayah Kabupaten Sragen. Dengan memperkerjakan 200 pembatik, Widya Kusuma saat ini mampu memproduksi 50 potong kain batik tulis per minggu dan 75 potong kain batik printing per hari. Tiap potong kain berukuran 2,5 meter x 1,15 meter. Harganya berkisar antara Rp 45 ribu hingga Rp 165 ribu untuk batik katun dan Rp 180 ribu hingga Rp 2,5 juta untuk batik sutera. Produk batik Widya Kusuma telah merambah berbagai kota di Indonesia, dimana peredaran terbesar ada di Solo, Yogyakarta, dan Jakarta. Selain itu, batik Widya Kusuma juga telah menembus pasar luar negeri, antara lain di Malaysia, Afrika, dan Jepang.

Batik Widya Kusuma juga terus melakukan inovasi dalam desain dan motif batik yang diproduksinya, termasuk mengembangkan motif batik khas Sragen. Wakiman mengaku sudah memiliki dua motif batik khas Sragen yang sebentar lagi akan diluncurkan. Batik khas Sragen ala Widya Kusuma itu antara lain motif Sangiran dan Jaka Tingkir. Motif Sangiran memuat anasir tulang belulang, tengkorak, tulang punggung, dan gunungan –khas fosil sangiran. Sedangkan motif Jaka Tingkir banyak memuat pola mahkota, keris, yang menggambarkan perlengkapan para bangsawan.

Untuk pengembangan usaha produksi batik Widya Kusuma, Wakiman membuka peluang kerjasama bagi para investor yang tertarik menggeluti bisnis batik. Batik Widya Kusuma masih membutuhkan suntikan dana sebesar Rp 1 miliar untuk menangani sektor pengadaan bahan baku dan pengembangan pasar.

Alamat            : BATIK WIDYA KUSUMA

(Bp. Wakiman)

Pungsari, Kecamatan Plupuh, Sragen

08122630

Kok Gak Banyak Yang tahu?

Selama ini batik Sragen masih belum begitu dikenal oleh masyarakat luas karena para pengrajin biasanya memasarkan produksinya ke berbagai wilayah diluar Sragen seperti Solo dan Yogyakarta sehingga masyarakat lebih mengenal batik “Solo” atau batik “Yogya” dari pada batik “Sragen.”

Kesulitan para pengrajin dalam memasarkan produksi batik di wilayah Sragen inilah yang mendorong Pemerintah Kabupaten Sragen untuk membantu mengakomodir kebutuhan pemasaran batik bagi para pengrajin dalam wadah Pusat Grosir dan Eceran BATIK SUKOWATI yang dibuka pada tanggal 6 Februari 2005 serta SENTRA BISNIS BATIK SRAGEN (SBSS) pada tanggal 15 Januari 2006.

Pusat Grosir dan Eceran Batik Sukowati & SBBS ? Apa itu?

Kebutuhan fashion masyarakat Sragen dan sekitarnya dapat terpenuhi di Pusat Grosir dan Eceran Batik Sukowati yang berada di Jl. Raya Sukowati No. 300 (Timur Shopping Sragen). Dengan fasilitas berbelanja yang nyaman, gedung megah serta pelayanan prima, para pengunjung bisa dengan leluasa berbelanja aneka batik tulis/cap/printing dalam berbagai produk seperti :

  • Bahan : Sarimbit Sutra, Hem, Blus, Kain Sawitan, Kebaya, Sprei
  • Busana Pria : Kemeja, T-shirt, Celana
  • Busana Wanita : Rok, Blus, Setelan, Sarung Selendang, Kebaya, Daster, Baby Doll, T-shirt, dll
  • Busana Anak-anak : Kemeja, Rok, Blus, Setelan, T-shirt
  • Busana Muslim : Hem Koko, Abaya, Sarung, Rukuh, Kerudung
  • Assesoris : Scraft, Pashmina, Selendang, Dasi, Tas, Dompet
  • Kerajinan : Sarung Bantal, Gorden, Taplak Meja, Wayang Beber,  Keramik, dll

Selain Batik Sukowati, Pemkab Sragen juga berupaya memberdayakan para pengrajin batik dan membantu pemasaran mereka dengan konsep pasar tradisional bersistem manajemen modern dalam wadah Setra Bisnis Batik Sragen (SBBS) yang diresmikan pada hari Minggu, 15 Januari 2006. Menempati lahan seluas ± 1.200m, SBBS mampu menampung 26 outlet untuk para pengrajin batik dan produk unggulan daerah seperti : Dewi Ratih, Shofura Kemala, Brotoseno, Putri Lestari, Punokawan, Windasari, Mawar Indah, Mahmudah, Abimanyu, Widya Kusuma, Rama Mukti, Puntodewo, Mitra Sari, Wahyu Tiga Jaya, Batik Tomi, MM Collection, Sekar Jagad, Brotojoyo, Kharisma, Daimestar, Satellite Garment, Happy Collection, Konveksi Asri, Fahmi Collection, Pujianto Wayang Beber.

Para pengunjung SBBS yang berlokasi di Jl. Raya Sukowati No. 251 (sebelah Barat kantor pemerintah Kabupaten Sragen) akan dimanjakan dengan aneka produk batik khas Sragen langsung dari para pengrajin seperti Sarimbit Sutra, Sarung Selendang, Aneka Kemeja, Blus, Busana Muslim, Seragam Sekolah, Aneka kerajinan, dll dengan harga grosir sehingga membuka peluang usaha bagi para usahawan untuk mengambil barang dagangan dari SBBS.   Baik Batik Sukowati maupun SBBS siap melayani pesanan design dan produksi batik untuk seragam kantor dan instansi baik Pemda maupun swasta dengan harga terjangkau dan kualitas terjamin.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: